JAMBI,Broni,Harian Pagi. Com_ Menelusuri trotoar di kawasan Sipin atau sepanjang Jalan Soemantri Brojonegoro saat ini memberikan sensasi yang berbeda bagi warga Kota Jambi. Lampu-lampu hias bergaya klasik, bangku taman yang tertata rapi, dan pola lantai warna-warni menciptakan kesan kota yang modern dan manusiawi. Namun, di balik polesan estetika yang memikat mata tersebut, tersimpan realita teknis yang mengundang kritik tajam dari para pengguna jalan.
1. “Wajah Cantik, Kaki Terjepit”: Problematika Desain
Pembangunan pedestrian di Kota Jambi dinilai terlalu fokus pada aspek beautifikasi (mempercantik) daripada aspek usability (kegunaan).
Material yang Mengancam: Penggunaan ubin glossy atau keramik tanpa tekstur kasar di beberapa titik menjadi jebakan saat hujan turun. “Kalau sudah hujan, kami lebih pilih turun ke aspal jalan daripada lewat trotoar, karena licin sekali seperti lantai kamar mandi,” keluh seorang warga.
Hambatan Fisik yang Absurd: Estetika seringkali bertabrakan dengan utilitas lama. Di beberapa ruas, tiang listrik dan gardu kabel berdiri tepat di tengah jalur, memaksa pejalan kaki untuk melipir ke tepi yang sempit.
Drainase yang Terlupakan: Pembangunan trotoar terkadang tidak dibarengi dengan perbaikan lubang kontrol drainase yang memadai. Akibatnya, saat hujan lebat, aliran air sering tersumbat karena tumpukan sampah di bawah trotoar sulit dibersihkan.
2. Catatan Merah Inklusivitas
Bagi penyandang disabilitas, trotoar baru ini dianggap belum sepenuhnya “merdeka”. Guiding block (ubin kuning pemandu) yang seharusnya menjadi penunjuk jalan bagi tunanetra seringkali dipasang dengan cara yang tidak logis.
Jalur pemandu ditemukan menabrak pohon besar.
Ubin kuning tiba-tiba terputus di depan ruko atau area parkir tanpa kelanjutan yang jelas.
Ketinggian trotoar yang tidak merata menyulitkan pengguna kursi roda karena minimnya ramp (bidang miring) yang landai.
Suara Masyarakat: Antara Apresiasi dan Keluhan
Untuk memahami dampak nyata dari proyek ini, kami awak pers berhasil merangkum berbagai tanggapan dari elemen masyarakat Jambi pada,Sabtu 28/02/2026:
Rian (28), Karyawan Swasta:
“Secara visual, Jambi sekarang keren, lebih maju. Enak buat nongkrong sore. Tapi kalau buat jalan kaki beneran dari poin A ke poin B, jujur masih repot. Banyak motor parkir naik ke atas, jadi kita yang jalan kaki malah harus mengalah.”
Ibu Sumarni (52), Pedagang di Kawasan Pasar:
“Trotoarnya bagus, tapi perawatannya kurang. Ada ubin yang sudah pecah-pecah karena sering diinjak mobil parkir. Sayang kalau cuma bagus di awal tapi setahun kemudian sudah rusak semua.”
Fahmi (21), Mahasiswa & Aktivis Sosial:
“Pemerintah harusnya tidak cuma mengejar foto Instagrammable. Cobalah ajak komunitas disabilitas saat merancang. Kami melihat banyak ‘jalur maut’ bagi tunanetra di trotoar baru ini. Estetika itu bonus, keamanan itu wajib.”
Analisis Teknis: Ketahanan dan Masa Depan
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kualitas pengerjaan (finishing) menjadi isu utama. Beberapa bagian ubin mulai terlepas (copot) diduga karena campuran semen yang tidak standar atau dasar tanah yang belum padat sempurna saat pengerjaan dikejar tenggat waktu (deadline).
Kota Jambi sedang dalam transisi menuju kota yang ramah pejalan kaki. Namun, transisi ini masih terjebak pada kulit luar (estetika). Tantangan bagi Pemerintah Kota ke depan adalah melakukan audit teknis terhadap proyek yang sudah berjalan dan memastikan pembangunan berikutnya tidak lagi mengorbankan fungsionalitas demi sekadar keindahan di depan kamera.
Pewarta: Harvery
