Jambi,rawasari,harian pagi.com_Kilauan emas di etalase toko kawasan Pasar Tengah seolah membius siapa saja yang melintas
Di saat harga emas batangan global sedang “senam jantung” dan harga per mayam menyentuh angka yang bikin geleng-geleng kepala, antrean warga di depan timbangan toko justru semakin mengular.
Bukan sekedar mengejar gengsi demi penampilan di hari raya, ternyata ada strategi ekonomi cerdas yang sedang dimainkan warga Jambi di balik riuhnya transaksi tukar tambah dan pembelian perhiasan baru tahun ini. Apa sebenarnya yang membuat mereka begitu yakin “mengamankan” THR ke dalam bentuk emas di tengah ketidakpastian harga?
Memasuki pertengahan Ramadhan 1447 H ( Rabu, 04/03/2026 ), pusat pertokoan emas seperti di terminal Rawasari dan Pasar Jambi mulai dipadati pengunjung. Berdasarkan pantauan lapangan, harga emas perhiasan saat ini bertahan di kisaran Rp9.450.000 per mayam.
Ibu Aminah (45), seorang warga Telanaipura, terlihat sibuk menimbang kalung lamanya. “Tukar tambah, Dek. Yang lama sudah bosan modelnya, mumpung ada rezeki sedikit kita ganti yang baru untuk dipakai pas shalat Id nanti. Kalau harga, ya memang lagi tinggi, tapi emas ini kan tabungan yang bisa dipakai,” ujarnya sembari tersenyum.
Di sisi lain, bagi mereka yang memiliki simpanan lebih, momen ini justru menjadi waktu untuk berburu model perhiasan terbaru.
“Saya beli sekarang karena takut nanti makin dekat lebaran harganya makin melambung atau tokonya terlalu ramai. Cari model kalung terbaru buat dipakai pas silaturahmi nanti,” kata Siska (28), seorang karyawan swasta di Jambi.
Para pemilik toko pun mengakui adanya anomali pasar tahun ini. H. Ridwan, pemilik Toko Emas Gemilang, menjelaskan bahwa warga Jambi sudah semakin melek investasi.
”Tahun ini trennya unik. Banyak yang beli bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi sebagai langkah antisipasi inflasi. Mereka lebih percaya pegang emas daripada uang tunai yang cepat habis buat belanja konsumtif,” jelas H. Ridwan.
Ia menambahkan bahwa model gelang rantai dan cincin polos menjadi primadona karena nilai jual kembalinya (buyback) cenderung lebih stabil.
Di Jambi, emas bukan sekedar perhiasan, melainkan indikator ekonomi rumah tangga dan simbol status sosial saat hari raya.
“Awal puasa kemarin banyak yang jual, mungkin untuk modal usaha takjil atau pegangan awal. Tapi masuk minggu kedua ini, pembeli perhiasan baru mulai mendominasi,” ujar Sdr. Dani, seorang pramuniaga senior di Toko Emas Sumatera. “Banyak anak muda cari cincin atau gelang simpel, mungkin pakai uang ‘ngabuburit’ atau tabungan.”
Bagi masyarakat yang baru ingin memulai investasi emas di Jambi, penting untuk memahami satuan berat yang berlaku di toko-toko lokal diantaranya ialah 1 Mayam itu setara dengan 3,35 gram (Satuan standar Jambi) sedangkan 1 Suku itu Setara dengan 6,7 gram (Dua mayam).
Agar investasi Anda tetap menguntungkan, perhatikan beberapa kiat berikut sebelum bertransaksi: ~Cek Kadar & Nota: Pastikan kadar emas (misal 24 karat atau 22 karat) tertulis jelas di nota resmi toko. ~Pantau Harga Antam: Gunakan harga emas Antam sebagai acuan dasar, meski harga perhiasan lokal akan ditambah biaya upah tempa. ~Bandingkan Biaya Upah: Setiap toko memiliki kebijakan biaya upah yang berbeda, pilihlah yang paling kompetitif.
Fenomena “Demam Emas” di Kota Jambi setiap Ramadhan membuktikan bahwa logam mulia tetap menjadi instrumen penyelamat ekonomi yang paling dipercaya masyarakat. Di tengah fluktuasi harga, emas tetap menjadi simbol kesejahteraan sekaligus pelindung nilai aset bagi warga Jambi di masa depan.
Pewarta : Harvery
Nara sumber : Laporan langsung dari lokasi pasar rawasari,Kota Jambi.
