Liputan Khusus
Provinsi Jambi- harian pagi.com_Papan reklame “Gempur Rokok Illegal” mungkin ada di jalanan protokol Kota Jambi, namun di balik gang sempit hingga warung kopi di pinggiran kota, realitanya bertolak belakang. Merek-merek “hantu” seperti Novem, IB, HMind, CanyonBlast, Slava, Oris, Gocap, Dizza, Sumberjaya, Luffman,Lithium dan lainnya kini bukan lagi barang langka.Mereka dipajang terang-terangan, menantang wibawa hukum yang seolah mandul.
Senin pagi, (02/03/2026), di kawasan pasar tradisional Angso Duo dan beberapa pangkalan truk di Lingkar Selatan,awak pers berhasil menemui para penikmat asap murah ini. Bagi mereka, cukai adalah istilah elit yang tidak relevan dengan perut yang lapar.
Demikian hasil wawancara dengan narasumber Joni(48) buruh angkut “, Pagi pak, hmm.. Kemasan rokoknya mantap ya pak. Rokok apa tuh pak.
Jawab narasumber”, oh.. Biasolah.. Yang penting berasap be.. (Sambil senyum-senyum..).
Pertanyaan: “Emang nggak batuk pak, kalau isap rokok begituan”?. Bukannya rokok mahal lebih bagus.
Jawab narasumber: “,idak jugolah.. Yang penting murah. “Logikanya sederhana, Mas. Rokok resmi sekarang Rp38.000. Rokok Gocap atau Dizza cuma Rp12.000. Selisihnya Rp26.000 itu bisa buat beli beras dua kilo. Kami kerja kasar, butuh merokok. Kalau pemerintah mau kami beli yang resmi, turunkan harganya, bukan cuma tangkap-tangkap kecil tapi barangnya tetap ada di mana-mana”, ujarnya.
Senada dengan Joni, seorang petani sayur di pinggiran Kenali Besar juga mengungkapkan hal yang sama. Maman,(52), Petani,”Saya pakai Novem atau Lithium. Belinya gampang, di warung sebelah rumah ada. Murah dan rasanya lumayan. Kalau dibilang ilegal, ya kenapa masih dijual bebas? Berarti kan boleh?, timpalnya.
Berdasarkan hasil rangkuman wawancara, diduga maraknya merek-merek spesifik seperti CanyonBlast,HMind,Slava,Novem,IB dan lainnya yang terus berganti kemasan namun tetap eksis menunjukkan adanya jalur distribusi yang mapan dan tak tersentuh. Publik mulai bertanya: Ke mana Bea Cukai Jambi?
Informasi yang dihimpun di lapangan menunjukkan pola “buka-tutup” jalur. Operasi pemusnahan yang sering dipublikasikan ke media diduga hanyalah “tumbal” untuk memenuhi kuota laporan kinerja, sementara pemain besar tetap melenggang.
Sementara dari salah seorang mantan kurir distribusi berinisial R(informan) yang kini dicari oleh oknum cukong karena pembocoran informasi, mengatakan, “Barang-barang seperti Slava,novem,IB atau Sumberjaya dan lainnya itu masuknya lewat jalur laut di pesisir Timur. Kalau ada razia, biasanya sudah bocor duluan. Yang ditangkap itu biasanya pemain kecil atau kiriman yang memang dikorbankan. Mustahil ribuan slop masuk ke kota tanpa ada ‘lampu hijau’ di titik-titik tertentu. Bea Cukai itu tahu jalurnya, tapi kenapa tidak pernah tuntas? Anda simpulkan sendiri”, katanya.
Dari pemberitaan media massa lain, dikatakan bahwa klaim penindakan terus naik. Namun fakta lapangan menunjukkan bahwa meskipun klaim penindakan terus naik, jumlah rokok ilegal di tangan konsumen di Jambi justru semakin masif per Maret 2026 ini. Ketimpangan ini menguatkan dugaan bahwa aparat hanya “memadamkan api kecil sementara membiarkan gudang besar tetap membara”.
Diduga terjadi dua hal yang secara tidak langsung membohongi publik yakni
~ Minim pengawasan gudang, diduga merek-merek rokok seperti Novem,Slava, IB dan lainnya memiliki stok yang sangat stabil di tingkat pengecer, menandakan adanya gudang-gudang penampung di dalam Kota Jambi yang tidak terdeteksi(atau dibiarkan).
~Manipulasi Narasi,diduga terjadi manipulasi narasi dalam publikasi pemusnahan barang bukti yang seringkali tidak disertai dengan pengungkapan aktor intelektual atau pemilik modal dibalik merek-merek rokok tersebut.
Peredaran rokok ilegal di Jambi bukan lagi soal pelanggaran administratif, melainkan kegagalan sistemik pengawasan. Jika Bea Cukai Jambi tetap menggunakan pola lama—hanya merazia warung kecil namun membiarkan pintu masuk di pesisir melompong—maka kampanye “Gempur Rokok Ilegal” tak lebih dari sekedar gimmick anggaran ( penggunaan kebijakan anggaran, rencana pengeluaran, atau angka-angka fiskal yang dirancang bukan terutama untuk efektivitas ekonomi, melainkan untuk menarik perhatian publik, menciptakan simpati, atau mendulang suara (populisme).)
Negara tidak hanya rugi secara finansial, tapi juga kehilangan harga diri di depan para spekulan rokok ilegal yang terang-terangan menguasai pasar Jambi.
Pewarta : Harvery
