Mei 26, 2026
IMG-20260423-WA0048

JAMBI, harian pagi.com – Matahari baru saja menggeliat di ufuk timur Jambi saat kabut tipis masih menyelimuti permukaan Sungai Batanghari. Di dermaga kayu yang mulai menua di kawasan Pasar Angso Duo, suara orkestra itu dimulai. Bukan simfoni gesekan biola, melainkan bunyi parau mesin-mesin modifikasi yang saling bersahutan: “tek-tek-tek-tek”. Itulah alarm alami kota ini, sebuah penanda bahwa kehidupan di atas air telah dimulai, jauh sebelum klakson kendaraan di Jalan Sultan Thaha mulai memekakkan telinga.

Di tengah gempuran algoritma transportasi online yang kini merambah hingga ke pelosok gang, ojek ketek tetap berdiri tegak. Perahu kayu ramping ini bukan sekadar alat angkut; ia adalah ruh, saksi bisu, sekaligus penyambung nafas bagi dua kutub kehidupan di Kota Jambi.

​Koin kehidupan di atas sungai ini digerakkan oleh ekonomi sosial yang sangat murni. Di atas ketek, kita tidak akan menemukan tarif statis yang ditentukan oleh aplikasi ponsel pintar, melainkan sebuah “kontrak batin” yang telah mengakar puluhan tahun. Sebut saja Pak Cik (52), salah satu pengemudi ketek yang telah menghabiskan separuh umurnya di atas sungai. Guratan di wajahnya adalah peta perjalanan ribuan kali menyeberangi arus Batanghari. “Kalau ditanya soal hasil, sekarang ya dicukup-cukupkan. Sehari paling kantongi Rp70.000 sampai Rp100.000 bersih, itu sudah dipotong beli solar sekitar 5 liter,” ujar Pak Cik sambil melilitkan sarung di bahunya.

Baginya, angka itu bukan sekadar rupiah, melainkan napas untuk bertahan hidup di tengah kepungan jembatan beton yang kian megah.
​Bagi warga Seberang Kota Jambi (Sekoja), ketek adalah jaring pengaman ekonomi yang tak tergantikan. Siti (34), seorang pedagang kue rumahan, menjelaskan betapa vitalnya peran perahu kayu ini. “Kalau naik motor lewat jembatan, mutarnya jauh sekali, bisa 20 menit lebih kalau macet. Naik ketek cuma 5 menit sampai ke Pasar Angso Duo. Bayar Rp5.000 sudah bisa bawa barang belanjaan banyak. Lebih praktis dan tidak makan waktu,” tutur Siti sembari menata keranjang kuenya. Secara sosiologis, ketek menciptakan ruang diskusi apung yang unik; tak ada sekat antara pedagang, mahasiswa, atau buruh angkut. Semua duduk berdampingan, bergoyang seirama dengan riak sungai, menciptakan pasar informasi paling jujur di Jambi, di mana berita mengalir lebih cepat daripada arus sungai itu sendiri.
​Di balik fungsinya sebagai urat nadi logistik, ketek menyimpan sisi romantisme yang menawarkan pengalaman sensorik otentik.

Menaiki ketek adalah perjalanan melintasi waktu, di mana dari sudut pandang yang rendah dan hampir menyentuh permukaan air, kemegahan Jembatan Gentala Arasy terlihat lebih dramatis. Deretan rumah panggung di tepian sungai menceritakan kembali sejarah Jambi sebagai kota air yang agung. Angin sungai yang menerpa wajah, aroma khas air tawar, dan goyangan ritmis perahu menciptakan sensasi slow tourism yang menenangkan. Bagi wisatawan, ini adalah kemewahan dalam kesederhanaan—sebuah museum bergerak yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Jambi beradaptasi dengan alamnya selama berabad-abad.

Namun, simfoni ini bukan tanpa nada sumbang, sebab modernisasi adalah pisau bermata dua yang perlahan mengikis jumlah penumpang reguler. Regenerasi pun menjadi tantangan besar ketika anak-anak muda kini lebih memilih memegang kemudi ojek motor di daratan daripada harus berjibaku dengan lumpur dan kuatnya arus Batanghari. Meski begitu, ketek menolak untuk karam. Ia tetap bertahan bukan karena ia tak mau berubah, tapi karena ia memiliki identitas yang tak bisa digantikan oleh aspal. Menjaga eksistensi ojek ketek berarti menjaga warisan kemanusiaan kita; sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun pembangunan darat melaju, Jambi tidak boleh melupakan akarnya sebagai peradaban sungai.

Ketika hari mulai gelap dan lampu-lampu di Gentala Arasy mulai berpendar, satu per satu ketek merapat ke dermaga. Mesinnya dimatikan, namun denyutnya tetap ada dalam ingatan warga. Karena selama Sungai Batanghari masih mengalir, kontrak batin antara warga dan ketek akan selalu menemukan caranya untuk tetap hidup, melawan arus zaman yang kian menderu dengan penuh martabat.

Pewarta : harvery

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *